Minggu, 04 Desember 2011

PILSAFAT_PAI


FILSAFAT PENDIDIKAN
A.      Filsafat
Dari bahasa Yunani, Philo yang berarti cinta (love) dan Sophia  yang berarti kebijaksanaan (wisdom).  Berarti dapat diartikan sebagai " Cinta kepada kebijaksanaan ". apa yang dinamakan dengan kebijakan dalam tradisi pemikiran filosof Yunani dalam suatu pemahaman atas kebenaran pertama (first truths) seperti baik, adil dan kebenaran itu sendiri, serta penerapan dari kebenaran-kebenaran pertama ini dalam problem kehidupan.

B.      Cabang-cabang Filsafat / objek kajian filsafat
1.       Logika,
Membicarakan tentang aturan-aturan berfikir agar dengan aturan tersebut dapat diambil kesimpulan yang benar.  Dengan kata lain logika adalah pengkajian secara sistematis tentang aturan untuk menguatkan premis-premis atau sebab-sebab mengenai konklusi aturan itu sehingga dapat dipakai untuk membedakan argumen yang baik dari argumen yang tidak baik.
2.       Ontologi,
Sering disebut Metafisika adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang akibat segala sesuatu yang ada, atau membahas watak yang sangat mendasar.  (Teori tentang ada )
Contoh pertanyaan; apakah hakikat ruang, waktu, gerak, materi dan perubahan itu ? Apakah yang merupakan asal mula jagad raya ini ? Apakah jiwa dan badan itu ?
3.       Epistimologi
Cabang filsafat yang menyelidiki asal mula, susunan, metode-metode, dan sahnya pengetahuan. ( Cara mencapatkan sebuah kebenaran dari objek yang difikirkan )
Pertanyaan mendasar, Apakah mengetahui itu ? Apakah yang merupakan asal mula pengetahuan itu ? Bagaimanakan cara kita mengetahui bila kita mempunyai pengetahuan ?
4.       Etika
Lebih menekankan pada moralitas, problem moral dan pertimbangan moral.
Pertanyaan; Apakah yang menyebabkan suatu perbuatan yang baik itu baik ? Apakah yang dimaksud kebaikan, kebenaran dan kejujuran ? Bagaimanakah cara kita melakukan pilihan diantara hal-hal yang baik?.
5.       Estetika
Membicarakan definisi, susunan dan peranan keindahan, khususnya di dalam seni.
Pertanyaan; Apakah fungsi keindahan dalam hidup kita ? Apakah seni itu ? Apakah hubungan antara yang indah dengan yang benar (epistimologi) dan yang baik (etika) ?
6.       Aksiologi,
Teori tentang nilai.
Contoh;                Nuklir untuk kemaslahatan ( Listrik )
                                Nuklir untuk kemadlarata ( BOM )

Wilayah kajian filsafat pendidikan pada sesuatu yang teramati / terukur maupun yang tidak teramati / terukur.
Contoh                 Jasad san ruh.
Karena di dalam diri manusia terkandung
a)      Nasuth ( Kemanusiaan )
b)      Lahut ( Ketuhanan ) cenderung kepada kebaikan, kejujuran.

PERBEDAAN
Barat     : Lebih menekankan epistimologi
Islam     : Menekankan pada aksiologi , kemanfaatan ilmu

Filsafat Umum hanya mengamati apa yang dapat diukur                Empirik
                                                                                                                                Sensual
                                                                                                                                Rasional

Dalam filsafat pendidikan biasa menggunakan dali Naqli ( al-Qur'an dan Hadits) yang menghubungkan atau menyangkut keimanan.
Landasan Naqli bersifat subjektif ( sulit dirasionalkan pada hal-hal tertentu).
Contoh pada ayat
pada kalimat  , surat al-Mukminun ayat 23
pada kalimat  , surat Yasin 35

Agama tidak mungkin dijalankan bagi orang-orang yang tidak mempunyai akal karena itu agama sangat menghargai akal

FILSAFAT MANUSIA DALAM ISLAM
Didalam Filsafat Barat ada 3 aliran yaitu
1.       Manusia / Alam
Bersifat / Substansinya materialisme (materi). Manusia dilahirkan dari hubungan seorang ayah dengan ibu dimana keduannya mempunyai visiologi (visi)
Contoh         : Manusia berbahagia ( dalam segi materi )
Seorang anak yang pandai mata pelajaran Matematika / IPA, meskipun ia tidak melakukan ibadah shalat maka orang tua membiarkannya atau tidak ada masalah dengan yang dilakukan anak (tidak shalat) karena shalat adalah bukan pekerjaan yang menghasilkan materi (uang). Orang tua lebih mendukung kepada anaknya tentang segala usaha yang berakhir menghasilkan materi, karena materi itulah kebahagiaan. (intinya bersifat Duniawi)
2.       Serba Roh
Manusia bagian dari dunia atau segala yang ada di dunia maka segala isinya bersifat / substansinya mempunyai roh.
Contoh         : Bintang film yang cantik, ia dianggap cantik ketika ia masih hidup / ada roh, tetapi apabila ia sudah mati, maka ia tidak ada nilainya / harganya. (intinya Roh lebih berharga daripada materi)
3.       Dualisme
Substansinya terdiri dari jasmani dan rohani, keduanya tidak ada ketergantungan tetapi mempunyai hubungan interaktif.
Dari segi wujud: Manusia terdii dari jasad dan rohani
Contoh         : Orang yang fisiknya cacat, maka akan berpengaruh pada sikap / psikologinya.
Jasmaniah berinteraksi dengan roh.
Contoh         : Orang yang stress akan merasa putus asa dalam hidupnya (kejiwaannya guncang )

PANDANGAN ISLAM TENTANG HAKIKAT MANUSIA
Pandangan Islam tentang hakikat manusia
1.       Potensi Nasuth, bersifat Kemanusiaan
Contoh         : Manusia membutuhkan makan, minum, tempat tinggal, bergerak, mempunyai kemamuan, kebutuhan, dll.
2.       Potensi Lahut, bersifat Ketuhanan (Didalam al-Quran dijelaskan bahwa Tuhan tidak mungkin mencitai kejahatan)
Berarti dalam diri manusia ada potensi positif
Contoh         : Seseorang diberi pilihan untuk calon isteri, pilihannya adalah yang 1 cantik dan yang 1 jelek, jadi secara bathiniah ia akan memilih yang pertama (cantik).

Perbedaan FIlsafat Barat dengan Filsafat Islam
Di dalam filsafat barat memandang ruhaniah tidak punyai tanggung jawab sampai kapanpun, sedangkan didalam Islam memandang ruh bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan hingga besok hari kiamat.

Jasa / Jasmaniah dalam Islam adalah jasad yang dijadikan ruh sebagai alat untuk berhubungan / mengalami kehidupan yang bersifat materi.
Contoh                 : Dalam berpolitik manusia mau disuap karena ada roh.

POTENSI / KEKUATAN MANUSIA
Potensi manusia ada lima yaitu;
1.       Hidayah Wujdaniah / Insting. Jadi manusia sejak dilahirkan ke dunia, ia mempunyai insting.
Contoh         : Bayi menangis ketika ia merasa lapar saat baru ia dilahirkan.
2.       Hidayah Khissiyah / Panca Indera; Pendengar, Perasa, Peraba, Penglihatan, Penciuman)
3.       Hidayah Aqliyah / Manusia dapat berkreasi
4.       Hidayah Dinniyah / Naluri untuk menerima kebenaran / keagamaan. Kita percaya tentang adanya alam kubur, surga, neraka dan yang berhubungan dengan hal ghaib meskipun kesemuanya itu tidak dapat di nalar (tidak cocok dengan akal), karena akal menerima sesuatu yang nyata. Tetapi karena ada hidayah Dinniyah maka kita menerimanya / mempercayai keberadaan hal ghaib.
Contoh         : Peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad, memang kejadian tersebut tidak mungkin dilakukan dalam satu malam (mustahil) tetapi karena adanya Hidayah Dinniyah kita mengimaninya / mempercayai bahwa itu terjadi.
5.       Hidayah Taufiqiyah / Kesesuaian antara ajaran agama, akal dan juga hati.
Agama banyak berhubungan dengan akal, akal berhubungan mutlak dengan hati.
Contoh         : Akal hilang maka hatinya akan rusak. Orang gila tidak memakai pakaian karena rasa / hatinya rusak.

Manusia sebagai Khalifah (wakil, pengganti, duta )

TRILOGI HUBUNGAN MANUSIA
Manusia dalam hidupnya mau tidak mau akan berhubungan dengan ;
1.       Tuhan, hubunnya bersifat positif ( dengan orang sholeh ) dan bersifat negative ( orang yang ingkar kepada Allah )
Agar berhubungan dengan Tuhan berjalan harmonis maka manusia harus; berbuat / menjalankan perintah Allah ( In kuntum tukhibbuuna Allaha yukhbibkum Allahu )
Menurut Thomas : Timbulnya keagamaan karena melalui berfikir
Contoh   Pada malam hari manusia dengan sendirinya bangun untuk sholat
2.       Manusia dengan manusia
Agar dapat berhubungan yang harmonis dengan sesama maka;
-          Harus ada keseimbangan hak dan kewajiban
-          Harus menentang kebathilan
-          Saling melindungi
-          Toleransi
-          Menjunjung tinggi persaudaraan, perdamaian
3.       Manusia dengan Alam. Yang biasa dikenal dengan hukum Kausalitas ( Hukum sebab akibat )
Dalam pengelolaan alam ada pertanggungjawaban dengan manusia juga dengan Allah.
Contoh         : Hutan gundul mengakibatkan banjir, tanah longsor

Beberapa Pendapat tentang Ilmu

Ernest mengatakan Ilmu adalah  sesuatu yang empiris rasional.
Pertanyaan         ; segala sesuatu  kalau tidak empiris tidak dikatakan ilmu
Jawab                   : Tidak mungkin, karena realitas di dunia ini tidak tunggal karena tidak mungkin realitas non rasional / empiris keberadaanya mutlak.
Montago mengatakan Ilmu pengetahuan dibangun atas pengamatan, pemikiran dan pengalaman.
Pertanyaan         ; Sesuatu yang tidak dapat diamati tidak ilmu
Jawab                   : Salah, karena dalam Islam ada ilmu pengetahuan yang tidak dapat diamati.
Dzakiyat Darajat mengatakan Ilmu bersifat Makro / deduktif (contoh al-Qur'an) dan induktif  / kejadian di lapangan untuk kebahagiaan / kemaslahatan dunia akhirat.

Perbedaan Pendidikan Barat dengan Pendidikan Islam

Pendidikan Barat hanya mengutakamakan keduniaan sedangkan Pendidikan Islam mengutamakan keduniaan juga kebahagiaan akhirat. Oleh karena itu pendidikan di dalam Islam sangat penting karena untuk mendapatkan kebahagiaan / kemaslahatan dunia dan akhirat.

Fungsi Ilmu Pengetahuan dalam Islam
Kedudukan ilmu Islam sangat penting karena untuk kemaslahatan di dunia dan akhirat;  
1.       Sebagai alat mencari kebenaran
2.       Ilmu Pengetahuan dapat dijadikan sebagai pra syarat amal Sholeh. Ibadah tanpa disertai dengan ilmu pengetahuan maka ibadahnya rusak / tidak diterima.
ﻭﻜﻝ ﻤﻦ ﺑﻐﻴﺮﻋﻠﻡ ﻴﻌﻤﻝ            ﺍﻋﻤﺎﻟﻪ ﻤﺮﺪﻭﺩﺓ ﻻ ﺗﻗﺑﻞ           
3.       Sebagai alat untuk mengelola alam guna memperoleh ridho Allah
4.       Dapat dijadikan sebagai alat pengembangan daya fikir, semakin banyak ilmu pengetahuannya maka daya fikirnya semakin baik.
ﺸﻛﻭﺖ ﺇﻠﻰ ﻭﺍﻗﻊ ﺴﻭﺀ ﺨﻓﻀﻰ ﻓﺄﺮﺷﺪﻧﻰ ﺍﻠﻰ ﺗﺮﻚ ﺍﻠﻤﻌﺎﺺ
ﻮﻋﻟﻤﻦ ﺒﺄﻦ ﺍﻠﻌﻠﻡ ﻧﻮﺮ ﻮﻧﻮﺮﺍﷲ ﻻﻴﻬﺪﻯ ﺍﻠﻰ ﺍﻠﻤﻌﺎﺺ
Saya mengadu kepada Ustadz Waqi' tentang jeleknya hafalan saya kemudian ia perintahkan untuk meninggalkan maksiat dan mengajarkan ilmu kepadaku dan sesungguhnya ilmu itu cahaya dan cahaya Allah itu tidak bisa diberikan kepada orang yang berbuat maksiat
Realitas ada 2                     Qur'aniyah          (ayat-ayat Qur'an
                                                Kauniah           (Kealaman; bumi, binatang, udara dll)

PENDEKATAN DALAM MEMPEROLEH ILMU PENGETAHUAN
A.      Empiris, pengataman harus dengan indera
Contoh         Seseorang yang berzina bahkan sampai 50 kali sekalipun jika tidak ketahuan dan tidak ada sakti maka ia tidak bisa dikatakan bersalah / dianggap berzina
B.      Rasionalisme, mengejar kebenaran atas dasar penalaran
Penalaran akal mempunyai fungsi yaitu mampu membedakan antara pekerjaan binatang dengan manusia atau mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
C.      Gabungan Empiris dan Rasionalisme, diamati dengan indera juga diiringi dengan  penalaran.

Islam mengakui sedang barat tidak mengakui adanya pendekatan
Intuitif; pendekatan yang digunakan untuk objek ilmu pemahaman rasional dan sensual (pengalaman indera)
Contoh         : 1) Gunung merapi berbahaya tetapi menurut mbah Marijan itu tidak berbahaya. 2) Peristiwa Isra' Mi'raj
Interpretasi kitab suci, pemaknaan terhadap kitab suci
Contoh         : Adanya ilmu fiqh , tasawuf, tauhid, dsb.
Ini menjadi penting karena di dunia ini ada 2 realitas; Bersifat duniawi dan Bersifat ukhrowi

IMPLIKASI / DAMPAK PENDIDIKAN ISLAM TERHADAP PROSES PEDIDIKAN ISLAM

1)      Semua realitas yang menjadikan Allah dan ilmu bersumber dari Allah maka proses pendedikan pembekalan ilmu pada anak didik harus sesuai dengan sifat Allah contoh sabar, pemaaf, pandai, dll.
ﻭﺍﺤﺴﻦ ﻜﻤﺎ ﺍﺤﺴﻦ ﺍﷲ ﺍﻠﻴﻚ
Berbuat baiklah kamu sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu
2)      Mengarah pada Ridho Allah
3)      Dalam pembekalan ilmu mampu melahirkan dan mendorong anak didik untuk berbuat yang terpuji (sholeh).

Kajian Filosofis Pendidikan Islam

1.       At-Ta'lim; Pengajaran/proses transmisi/pengiriman terhadap berbagai ilmu kepada peserta didik yang bersifat psikologis.
2.       At-Tarbiyah; Menurut As-Sybani; Pendidikan, proses pengubahan, pengembangan tingkah laku (Kognitif, Afektif, Psikomotorik) menjadi lebih baik atas dasar nilai etika Islam
Menurut Al-Jamana; Pendidikan Islam; mengembangkan anak didik dibidang akal, perasaan, amaliah kearah yang lebih maju atas dasar nilai / etika Islam.
Di dalam pendidikan terjadi proses diantaranya;
·         Transformasi; Pengembangan, perubahan
·         Internalisasi; Pembekalan kepada anak didik
·         Trans Internalisasi; Bagaimana anak didik dapat mengembangkan atau menginternalisasi dalam kehidupan sehari-hari

Dalam Islam ilmu diharapkan memberikan implikasi/dampak ke hal yang positif/bermanfaat, dan jika tidak ada implikasi berarti ilmu dikatakan tidak bermanfaat.

Dalam Pendidikan Islam ada nilai;
·         Ilahiah; Ketuhanan
·         Insaniah; Kemanusiaan untuk menjunjung harkat martabat

Islam sangat menghargai nilai tetapi dunia barat tidak mengakui nilai karena menurut dunia barat, di dunia ini bersifat provan/hanya urusan di dunia dan dan urusan akhirat seperti yang dikatakan dalam ajaran Islam tidak ada atau bisa juga dikatakan bahwa akhirat bersifat subjektif.

Dalam Pendidikan Islam, didalam diri anak terdapat potensi yang harus dikembangkan yaitu Wujdaniyah, Khissiyah, Aqliyah, Dinniyah dan Taufiqiyah. Maka dalam pengembangannya harus ada keseimbangan antara hubungan dengan Allah, Sesama manusia dan dengan Alam, dan keseimbangan dalam hidup.

Pendidikan sebagai Pengembangan Potensi
Pendidikan sebagai proses pengembangan;
a)      Intelektual. Kapan seseorang punya kecerdasan intelektual ? jawab; pada saat seseorang menghadapi masalah, pilihan dan lain sebagainya.
Contoh; Pada saat pilleg (Pemilihan anggota DPR) maka jika ada caleg, kita akan dapat membedakan mana caleg yang memiliki emosional dan yang tidak memiliki emosional.
b)      Sosial. Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan
Contoh; Anak harus berhubungan baik dengan keluarga, pengembangan untuk berbuat baik dengan manusia dan lingkungan
c)       Susila. Dalam diri manusia ada potensi untuk menjauhi sifat amoral/negative.
Contoh; seseorang dapat memilih diantara 2 pilihan yang baik dan yang buruk, maka ia secara bathiniah memilih ke baik
d)      Kemajuan / aktualisasi diri
Contoh; Seseorang ditawari jabatan/sesuatu yang lebih baik maka ia cenderung akan menerimanya.
e)      Emosional

Pendidikan sebagai bimbingan Kedewasaan
Dewasa; Proses pertumbuhan dari remaja ke dewasa.
a)      Psikologis, nalarnya/pemikirannya matang dan semua yang ia lakukan adalah difikirkan terlebih dahulu lebih matang.
Contoh; Ia memilih caleg sesuai nalar dan bukan karena ia diberi uang imbalan
b)      Biologis, Mampu melakukan kegiatan yang bersifat fisiologis secara proporsional
Contoh; pada umumnya seseorang makan nasi, tetapi ia malahan makan gotri berarti ia biologisnya belum dewasa
c)       Sosiologis, Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mampu mengenal kode etik hidup social
Contoh; Saat tetangga punya/terkena musibah, tetapi ia malah membunyikan nyanyian dangdut yang suaranya sangat keras  sehingga mengganggu ketenangan umum berarti ia sosiologisnya rendah
d)      Paedagogis, punya kesadaran hak dan kewajiban, mampu mendidik dirinya sendiri terhadap hak dan kewajiban untuk bertanggung jawab atas perbuatannya
e)      Religius; mengamalkan nilai ajaran agamanya

ANALISIS DASAR DAN TUJUAN PENDIDIKAN
Dasarnya;
a)      Ideal;
-          Al-Qur'an
-          Sunnah nabi/ hadits
-          Maslahah mursalah
b)      Operasional;
-          Historis/sejarah, masa lalu dijadikan pedoman untuk arah yang lebih baik
-          Social, berhubungan dengan hukum social
-          Psikologis, berhubungan dengan kejiwaan, contoh; karakteristik guru, karakteristik siswa, sikap dan motivasi
-          Philosofi; hakikat pendidik, kurikulum dan evaluasi
Anak didik adalah makhluk yang sedang mengalami perkembangan dan pertumbuhan
Maknanya           anak didik belum sampai pada titik optimal perkembangan
Keinginan kita sebagai guru tidak sama / belum tentu sama dengan keinginan anak didik
Ø  Anak didik sebagai objek karena sebagai transfer of knowledge
Ø  Anak didik sebagi subjek karena
-          Anak didik bukan sebuah botol kosong
-          Anak didik bukan barang mati tetapi makhluk hidup yang berkembang terus dan memiliki kebutuhan
-          Anak didik bukan miniatur orang dewasa

HAKIKAT ANAK DIDIK
Sebaai manusia pemncari ilmu pengetahuan Imam al Ghazali mengatakan
ﺍﻦﺍﻟﻧﻓﺲﺍﻦﻛﻤﻟﺖﻮﻛﺎﻧﺖﻛﺎﻤﻟﺔﺣﺴﻧﺔﺍﻓﻌﺎﻞﺍﻟﺒﺪﺍﻥﻮﻛﺎﻧﺕﺣﺴﻧﺔ
Sifat anak didik
Harus memiliki semangat;
Ø  ﺘﺨﻟﻳﺔﺍﻟﻧﻓﺲ  Mengosongkan diri dari perilaku tercela
Ø  ﺘﺣﻟﻳﺔﺍﻟﻧﻓﺲ  Menghiasi dengan perilaku terpuji
Ø  Harus punya sifat ulet, tabah dan sabar
Ø  Bertekad belajar hingga akhir hayat
Ø  Memahami nilai ilmiah dari ilmu yang dipelajari

Hakikat makna kurikulum
Segala usaha untuk mencapai tujuan pendidikan di luar maupun didalam sekolah.
Yang berkaitan dengan sumber pembelajaran diluar kelas (diantaranya lingkungan, pabrik, orang tua, teman, tetangga, acara televisi, radio ).
Hakikat kurikulum merupakan landasan yang digunakan pendidikan untuk membimbing anak didik mencapai tujuan yang diinginkan oleh lembaga tersebut.
Rambu-rambu dalam kurikulum berisi;
·         Berhubungan dengan tujuan yang ingin dicapai dengan pembelajaran
·         Harus memuat pengetahuan/ data-data keilmuan, informasi yang dapat berupa buku, majalah, yang kemudian dituangkan dalam bentuk mata pelajaran yang dirumuskan dalam silabus
·         Adanya metode panyampaian mata pelajaran, sebaiknya penggunaan metode yang fleksibel (sesuai dengan kebutuhan mata pelajaran)
·         Adanya system penilaian
Sebaiknya guru melihat cacatan materi pelajaran pada siswa yang berfungsi untuk melihat seberapa jauh minat, keinginan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Dasar-dasar kurikulum pendidikan islam
1.       Asas religiusitas, komponennya diantarannya Iman, Islam dan Ihsan
Iman, Kita tidak hanya dengan mengucapkan iman saja tetapi bagaimana kita mengilhami makna Iman bahwa kita mempercayai Allah itu harus diiringi dengan perbuatan yang baik, dan dengan keimnanan siswa didiki diharapkan mampu meniru dalam bentuk perbuatan sesuai dengan sifat Allah sesuai dengan kadar kemanusiaannya
Islam, dapat dilihat dari syahadatnya. Makna syahadat; 1) Asyhadu an la ilaha illa Alah; kita harus mengesakan Allah dan tidak mengesakan dengan yang lain contoh kita terjebak dengan kekayaan, keduniaan sehingga lupa dengan Allah. 2) Wa asyhadu anna Muhammad ar-Rasulullah seharusnya idola kita adalah Nabi Muhammad buka kepada artis. Maka sudah seharusnya kita meniru kepada perilaku / akhlak Nabi  dan bukan hanya dalam bentuk pakaian saja, memanjangkan jenggot dll.
Tujuan agama adalah membentuk akhlakul karimah, maka orang yang beragama harus memiliki akhlak yang baik sehingga dalam kita berbuat selalu berhati-hati.
Ihsan, kita yakin bahwa allah itu melihat kita kapanpun, dimanapun kita berada.
An ta’buda Allahu ka’aanaka tarroohu fain lam takun taroohu fainnahu  yarooka
Kita menyembah Allah seolah-olah Allah berada didepan kita, jika engkau tidak melihat Allah maka yakinlah bahwa Allah melihatmu.
Ketika kita mengajar, berkumpul dengan keluarga, dengan siapapun maka yakinkan bahwa kita dilihat oleh Allah dan Allah berada didepan kita,
Makna Ihsan; terciptanya akhlakul karimah.
Ketika kita membangun kurikulum Islam maka kita harus mendasarkan asas Iman, Islam dan Ihsan yang lebih megutamakan perilaku positif.
Normatifitas, norma yang tidak dapat diubah contoh kewajiban sholat dzuhur 4 rakaat bukan 3 rokaat. Aturan thawaf adalah mengelilingi ka’bah dan bukan pada candi Borobudur.
Historysitas , bagaimana hukum sa’I yang pada akhir-akhir ini tempat / jalan sa’I diperlebar ? padahal zaman rasulullah tidak seperti itu. Melempar jumrah dahulu kepada tugu tetapi saat ini diubah menjadi / ditutup dengan tembok. Tetapi pembangunan tembok itu demi kemaslahatan akibat tragedy lempar jumrah.
Latar belakang perlunya asas keagamaan dalam kurikulum
a.       Agar anak didik selalu berada dalam kesucian (fitrah)
b.      Anak didik dapat memiliki akhlakul karimah
c.       Agar nilai-nilai edukatif dapat ditanamkan
2.       Filosofis,
a.       Ontologis, menyangkut masalah
-          Kewilayahan, ruang lingkup keilmuan Islam selalu ganda (selalu berhubungan dengan factor lain) dunia dan akhirat, maka tanggungjawab orang yang berilmu bukan hanya didunia saja melainkan sampai ke akhirat,. Barat mengatakan bahwa wilayah keilmuan itu hanya satu yang bersifat profan (keduniaan)/segala sesuatu hanya diukur dengan materi.
-          Eksistensi, keberadaan bahan ajar yang diajarkan oleh guru menurut islam bersumber dari Allah, maka dalam kita mengajarkan ilmu tidak boleh berlawanan dengan akhlak Allah. Contoh; belajar menciptakan nuklir untuk kemanusiaan / kemaslahatan maka ini sesuai dengan akhlak Allah tetapi jika kita buat BOM maka ini menyimpang dari sifat Allah karena Allah tidak cinta kepada kerusakan.
b.      Epistimologis yaitu cara studi / mencari kebenaran keilmuan. Kita yakin Bahwa Allah tidak akan semena-mena maka kita yakin bahwa kitab Allah itu benar keberadaannya. Contoh, politik yang keluar dari Islam maka itu jelas menyimpang, contoh terbaru Boediono (cawapres SBY) dianggap tidak agamis, maka ia dianggap sebagai orang non muslim. Maka kita sebagai orang Islam dalam berbuat selalu berpegang pada nilai-nilai al-Qur’an
c.       Aksiologis, berhubungan dengan nilai.
-          Illahiyah, berhubungan dengan wahyu (qur’an, hadits)
-          Insaniyyah, berhubungan dengan kebudayaan/norma kemanusiaan contoh memukul orang yang tidak salah maka itu melanggar nilai insaniyyah karena didalam alqur’an tidak ada perintah seperti itu.
-          Alamiyah, berhubungan dengan alam. Contoh  mengekploitasi air yang melebihi rambu-rambu itu melanggar,  jika semua orang membangun rumah kaca maka akan berakibat menipisnya lapisan ozon yang akhirnya mengakibatkan pengikisan pantai (abrasi).
-           
3.       Social, mengapa? Karena anak didik, guru, lingkungan adalah makhluk social. Jika kita menafikan kurikulum pendidikan islam harus ada asas social, karena kita harus;
-          Mampu berkomunikasi dengan siapapun
-          Mampu bekerjasama / menyesuaikan diri dengan lingkungan lain
-          Mampu merasakan perasaan orang lain
Ciri-ciri pendidikan islam
1.       Mengedepankan akhlakul karimah
2.       Tawazun,
3.       Mengacu pencapaian tujuan akhir (taqarrub illa Allah)
PRINSIP-PRINSIP KURIKULUM
1.       Fitrah
a.       Ruhiyyah
b.      Qolbiyyah
c.       Aqliyyah
d.      nafsiyyah


Selasa, 11 Oktober 2011

MAKALAH SELEKTAKAFITA PAI


PENDIDIKAN YANG SPIRITUALIS:
Mengoptimalkan Kecerdasan Spiritual Melalui Pendidikan Agama

Abstrak

Islam sebagai agama, sesungguhnya mengajarkan kepada umatnya untuk membentuk masyarakat yang berperadaban tinggi. Antara agama dan peradaban memiliki korelasi positif, semakin tinggi sikap keberagamaan seseorang, maka semakin tinggi pula kontribusinya dalam mewujudkan masyarakat yang berperadaban, demikian pula sebaliknya.

Makalah ini menolak pemikiran Danah Zohar dan Ian Marshall dalam bukunya "SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence" yang menyatakan bahwa kecerdasan spiritual (SQ) tidak memiliki hubungan dengan agama. Dengan demikian, sumber bahan yang digunakan dalam makalah ini adalah buku SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence karya pasangan psikolog Danah Zohar dan Ian Marshall yang diterbitkan oleh Bloomsbury, Great Britain tahun 2000, yang dibaca dengan menggunakan pola pikir teologis-tasawuf yang dibuat oleh Sayyed Hossein Nasr dalam bukunya "Islamic Spirituality Foundations" dan telah diterjemahkan oleh Rahmani Astuti ke dalam bahasa Indonesia dan diterbiutkan oleh Mizan Bandung Tahun 2002 lalu dikombinasikan dengan pola pikir teologis John Renard dalam bukunya "Seven doors to Islam: spirituality and the religious life of Muslims" diterbitkan oleh University of California Press dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh M. Khoirul Anam dengan judul "Dimens-dimensi Islam" terbitan Jakarta: Inisiasi Press Tahun 2004.


Pendahuluan

Kehadiran teori kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient) yang dipopulerkan oleh pasangan psikolog, Danah Zohar dan Ian Marshall pada tahun 2000 turut merubah orientasi pendidikan modern yang selama ini lebih cenderung kepada kecerdasan intelektual (Intellectual Quotient). Kecerdasan spiritual dianggap penggagasnya sebagai jenis "Q" ketiga (third intelligence) dan kecerdasan tertinggi (the ultimate intelligence) yang paling menentukan kesuksesan seseorang sekaligus sebagai landasan yang diperlukan untuk memungsikan IQ dan EQ secara efektif.
Namun teori kecerdasan spiritual yang dikemukakan oleh Zohar dan Marshall tidak sepenuhnya relevan dengan konsep pendidikan agama, terutama yang berkenaan dengan konsep hubungan SQ dan agama. Menurut pasangan psikolog ini, SQ tidak mesti berhubungan dengan agama. Bahkan ia menegaskan bahwa banyak orang humanis dan ateis memiliki SQ sangat tinggi; sebaliknya banyak orang yang aktif beragama memiliki SQ sangat rendah. Pemahaman semacam ini bisa berdampak negatif terhadap pengembangan pendidikan. Sebab, ketika SQ dianggap sebagai kecerdasan yang tertinggi maka pelaksanaan pendidikan bisa lebih berorientasi kepada kecerdasan spiritual dan mengabaikan aspek religius, bahkan ajaran agama dapat dianggap sebagai ajaran yang parsial. Jika kondisi ini terjadi, maka agama tidak lagi menjadi pegangan hidup dan akan mudah ditinggalkan, termasuk dalam pelaksanaan pendidikan.
Padahal, agama memiliki ajaran yang universal, komprehensif dan holistik sehingga aspek spiritual yang sesungguhnya menjadi bagian penting di dalamnya. Pendidikan agama sebagai upaya mendidik peserta didik memiliki sikap keberagamaan yang sempurna pada hakikatnya juga berorientasi kepada multikecerdasan seseorang, termasuk kecerdasan spiritual. Konklusi sementara ini akan diuraikan lebih lanjut dalam makalah ini secara analisis dan rasional sehingga menjawab hakikat pendidikan agama dan hubungannya dengan kecerdasan spiritual (SQ) seseorang.

Adapun metode yang digunakan dalam kajian ini adalah dengan cara menganalisis konsep kecerdasan spiritual yang dipopulerkan oleh Ian Marshal dan Danah Zohar, khususnya yang berkenaan dengan hubungan agama dan kecerdasan spiritual. Kemudian, akan dianalisis pula kajian tentang spiritual dalam Islam. Setelah itu akan dilakukan formulasi model pendidikan agama yang mampu mencerdaskan spiritual seseorang yang pada gilirannya akan mencerdaskan suatu bangsa.

Pemikiran Danah Zohar dan Ian Marshall tentang agama dan kecerdasan spiritual dalam bukunya "SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence" akan dianalisi dengan menggunakan pola pikir teologis-tasawuf yang dibuat oleh Sayyed Hossein Nasr dalam bukunya "Islamic Spirituality Foundations" dan telah diterjemahkan oleh Rahmani Astuti ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Mizan Bandung Tahun 2002. Selain itu, kajian ini juga didasarkan pula kepada pola pikir teologis John Renard dalam bukunya "Seven doors to Islam: spirituality and the religious life of Muslims" diterbitkan oleh University of California Press dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh M. Khoirul Anam dengan judul "Dimens-dimensi Islam" terbitan Jakarta: Inisiasi Press Tahun 2004.

Antara IQ, EQ dan SQ
Di awal abad ke-20, IQ menjadi isu besar. Kecerdasan intelektual atau rasional merupakan kecerdasan yang digunakan untuk memecahkan masalah logika maupun strategis. Para psikolog pendukung konsep itu menyusun berbagai tes untuk mengukurnya, dan tes-tes ini menjadi alat memilah manusia ke dalam berbagai tingkatan kecerdasan, yang kemudian lebih dikenal dengan istilah IQ (Intelligence Quotient) yang dianggap mampu menunjukkan kemampuan mereka. Bahkan menurut teori ini, semakin tinggi IQ seseorang, semakin tinggi pula kecerdasannya. Melalui tes IQ (intelligence quotient), tingkat kecerdasan intelektual seseorang dapat dibandingkan dengan orang lain. Kecerdasan inteligensi dapat diperoleh melalui pembagian usia mental (mental age) dengan usia kronologis (cronological age) lalu diperkalikan dengan angka 100.

Studi tentang IQ ini yang pertama kali dipelopori oleh Sir Francis Galton pengarang Heredity Genius (1869) dan kemudian disempurnakan oleh Alfred Binet dan Simon, pada umumnya mengukur kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan praktis, daya ingat (memory), daya nalar (reasoning), perbendaharaan kata dan pemecahan masalah (vocabulary and problem sol¬ving). IQ telah menjadi mitos sebagai satu-satunya alat ukur atau parameter kecerdasan manusia, sampai akhirnya Daniel Goleman mempopulerkan apa yang disebut dengan EQ (Emotional Intelligence) pada tahun 1995 dengan menunjukkan bukti empiris dari penelitiannya bahwa orang-orang yang IQ tinggi tidak menjamin untuk sukses. Sebaliknya, orang yang memiliki EQ, banyak yang menempati posisi kunci di dunia eksekutif. EQ memberi rasa empati, cinta, motivasi, dan kemampuan untuk menanggapi kesedihan dan kegembiraan secara tepat.
Penelitian para psikolog semakin berkembang sehingga ditemukan jenis "Q" ketiga, yaitu kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient). Kecerdasan ketiga ini dipopulerkan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall dalam bukunya "SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence". Pasangan psikolog ini mendefinisikan SQ sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Bahkan mereka menegaskan bahwa SQ sebagai kecerdasan tertinggi manusia sekaligus sebagai landasan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif.

Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual, menurut mereka adalah orang yang memiliki kemampuan bersikap fleksibel, tingkat kesadaran diri yang tinggi, mampu menghadapi dan memanfaatkan penderitaan dan rasa sakit, kualitas hidupnya diilhami oleh visi dan nilai-nilai, berpandangan holistic, dan hidup secara mandiri. Dalam konteks pendidikan, orang yang memiliki kecerdasan spiritual akan menjadi pribadi yang mandiri, merasakan hidupnya penuh dengan nilai serta memiliki kriteria-kriteria di atas sehingga pembentukan karakter yang diinginkan dalam proses pendidikan dapat terwujud.

Kecerdasan Spiritual dalam Islam
Istilah spiritual, sebagaimana yang digunakan dalam bahasa Inggris, sesungguhnya mempunyai konotasi Kristen yang sangat kuat. Menurut Seyyed Hossein Nasr, istilah yang digunakan untuk "spiritualitas" adalah rūhāniyyah (bahasa Arab), ma'nawiyyah (bahasa Persia), atau berbagai turunannya. Istilah pertama diambil dari kata ruh, yang bermakna ruh dimana Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk mengatakan, ketika ditanya tentang hakikat ruh: "Sesungguhnya ruh adalah urusan Tuhanku (Qs. al-Isra'/17: 85). Sedangkan istilah yang kedua berasal dari kata ma'na yang secara harfiah berarti makna, yang mengandung konotasi kebatinan, yang hakiki, sebagai lawan dari yang kasatmata, dan juga "ruh", sebagaimana istilah ini dipahami secara tradisional, yaitu berkaitan dengan tataran realitas yang lebih tinggi daripada yang bersifat material dan kejiwaan dan berkaitan pula secara langsung dengan realitas Ilahi itu sendiri.

Pemahaman seperti ini menunjukkan bahwa spiritual dalam pandangan Islam merupakan aspek yang bersifat batin, hakiki, dan erat kaitannya dengan keilahiahan. Pemahaman ini juga memiliki relevansi dengan SQ yang dikemukakan oleh Danah Zohar dan Marshall yang mengakui hasil penelitian neuropsikolog Michael Persinger di awal tahun 1990-an lalu dilanjutkan pula tahun 1997 oleh neurology V.S. Ramachandran bersama timnya di Universitas California mengenai adanya "titik tuhan" (God Spot) dalam otak manusia. Hasil penelitian ini justru memperkuat teori SQ yang dikemukakan oleh Zohar dan Marshall, meskipun pada akhirnya keduanya menolak jika kecerdasan spiritual ini disamakan dengan agama yang sesungguhnya memperkenalkan Tuhan.

Adapun mengenai kecerdasan spiritual dalam perspektif Islam berarti kecerdasan yang berhubungan dengan keilahiahan, bersifat ruhaniyyah, diliputi oleh hikmah dan menjadi kajian psikologi Islam. Kecerdasan spiritual merupakan potensi yang dimiliki setiap orang untuk mampu beradaptasi, berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan ruhaniahnya yang bersifat gaib atau transcendental, serta dapat mengenal dan merasakan hikmah dari ketaatan beribadah secara vertikal di hadapan Tuhannya secara langsung. Kecerdasan spiritual dalam Islam juga erat kaitannya tradisi tasawuf yang menjadi kajian penting dalam Islam. Sufi atau orang yang bertasawuf sesungguhnya orang yang cinta kepada Allah, berupaya mengasah kemampuan spiritualnya agar dekat dengan-Nya.

Kaitan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual pada hakikatnya juga mendapat perhatian dalam al-Qur'an, seperti firman-Nya dalam surat al-Baqarah/2: 151. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa di antara tugas setiap Rasulullah adalah untuk yatlu 'alaikum ayatina, yuzakkikum, dan yu'allimukum al-kitab wa al-hikmah. Tugas yatlu 'alaikum ayatina/mengajarkan kamu ayat-ayat Kami, sesunggunya mengandung isyarat kecerdasan intelektual (IQ), sementara yuzakikum atau mensucikan kamu mengandung makna kecerdasan emosional (EQ), sedangkan yu'allimukum al-kitab wa al-hikmah berarti kecerdasan spiritual (SQ). Al-kitab dan al-hikmah sarat akan nilai-nilai keilahiahan sehingga tugas terakhir dalam ayat di atas patut disebut kecerdasan spiritual.

Selain dari ayat di atas, juga terdapat ayat-ayat lain yang mengisyaratkan tentang kecerdasan spiritual. Hamdani Bakran Adz-Dzakiey juga mengemukakan beberapa indikator kecerdasan spiritual yang didukung oleh ayat-ayat al-Qur'an, di antaranya: dekat, mengenal, cinta dan berjumpa Tuhannya ( Qs. 2: 186, 223, Qs. 11: 29, dan Qs. 5:54); selalu merasakan kehadiran dan pengawasan Tuhannya di mana dan kapan saja (Qs. 2: 284); tersingkapnya alam ghaib (transcendental) atau ilmu mukasyafah (Qs. 7:96, Qs. 15:14-15, Qs. 78: 19 dan Qs. 50: 22); shiddiq (Qs. 9: 119, Qs. 4: 69 dan Qs. 59:8); Tabligh/menyampaikan (Qs. 3: 104, Qs. 2: 44 dan Qs. 61: 2-3); tulus ikhlas (Qs. 4: 146); selalu bersyukur kepada Allah SWT (Qs. 14:7); dan malu melakukan perbuatan dosa dan tercela (Qs. 96:14, Qs. 2:284). Begitu banyaknya ayat-ayat berkenaan dengan spiritualitas ini, John Renard menyebut bahwa al-Qur'an merupakan pusat (rujukan) bagi diskursus dan pengembangan spiritualitas Islam.

Jika dikaitkan dengan struktur kepribadian manusia, maka kecerdasan spiritual bertumpu pada qalb. Meminjam istilah Taufik Pasiak, qalb merupakan "otak spiritual". Qalb inilah yang sebenarnya merupakan pusat kendali semua gerak anggota tubuh manusia. Ia adalah raja bagi semua anggota tubuh yang lain. Semua aktivitas manusia berada di bawah kendalinya. Bahkan Rasulullah SAW menegaskan bahwa jika qalb ini sudah baik, maka gerak dan aktifitas anggota tubuh yang lain akan baik pula; demikian sebaliknya. Sementara kecerdasan intelektual berpusat di aql dan emosional berpusat pada nafs. Ketiga komponen ini mendapat perhatian dalam Islam agar dikembangkan dan dioptimalkan sebagaimana mestinya.

Hubungan antara Agama dan Kecerdasan Spiritual
Danah Zohar dan Ian Marshall sebagai tokoh yang memopulerkan SQ, membedakan antara SQ dengan agama. Menurutnya SQ tidak mesti berhubungan dengan agama. Bahkan ia menegaskan bahwa banyak orang humanis dan ateis memiliki SQ sangat tinggi; sebaliknya banyak orang yang aktif beragama memiliki SQ sangat rendah. Baginya, agama merupakan seperangkat aturan dan kepercayaan yang dibebankan secara eksternal. Agama dipahaminya sebagai lembaga yang bersifat formal dan top-down, diwarisi dari para pendeta, nabi, dan kitab suci yang ditanamkan melalui keluarga atau tradisi. Sementara SQ sendiri, ia pahami sebagai kemampuan yang bersifat internal, bukan eksternal.

Seperti yang telah disinggung di atas, Zohar dan Marshall sebenarnya mengakui hasil penelitian psikolog sebelumnya tentang adanya god spot dalam otak manusia yang terletak di antara hubungan-hubungan saraf dalam cuping-cuping temporal otak. Namun ia tetap menyangkal kaitan god spot ini dengan adanya Tuhan. God spot, menurutnya, hanya menunjukkan bahwa otak telah berkembang untuk menanyakan "pertanyaan-pertanyaan pokok", untuk memiliki dan menggunakan kepekaan terhadap makna dan nilai yang lebih luas.
Munculnya pendapat yang membedakan agama dan spiritual ini tentu dilatarbelakangi oleh pemahaman kedua tokoh ini terhadap agama formal. Jika dilihat setting sosial kehidupannya yang dibesarkan dan menetap di Barat, tentu pemikiran ini dipengaruhi oleh budaya Barat setempat. Barat yang notabenenya penganut agama Kristiani sesungguhnya memiliki sejarah yang amat panjang. Dalam perkembangan sejarah, agama Kristen—melalui para pendeta dan tokoh-tokoh agama ini—pernah mengalami lembaran yang kelam, khususnya ketika berhadapan dengan para ilmuan.

Selama beberapa abad, Barat dikuasai oleh doktrin gereja yang cenderung menolak kajian ilmu pengetahuan dan budaya berpikir atau filsafat yang pernah berkembang pada masa sebelumnya di Yunani sehingga mereka jauh dari peradaban. Bapak-bapak gereja Kristen, setelah agama Kristen menjadi agama resmi Imperium Romawi pada dasawarsa ketiga abad ke empat Masehi, bersemangat melakukan kampanye membasmi ilmu dan filsafat. Mereka menganggap ilmu sebagai sihir. Para ilmuan dianggap kafir, zindik dan keluar dari agama Masehi. Bahkan antara tahun 1481 hingga 1801, lembaga penyelidikan yang dibentuk oleh penguasa Paus untuk mencari dan menemukan para ilmuan yang dianggap murtad, telah berhasil menghukum 340.000 orang, hampir 32.000 di antaranya dibakar hidup-hidup termasuk sajana besar Bruno. Galileo Galilei (1564-1642 M), sarjana besar lainnya, dengan terpaksa dihukum seumur hidup dalam penjara, karena keyakinannya bertentangan dengan kitab Injil dimana ajaran gereja waktu itu berpegang pada konsep geosentris (matahari mengelilingi bumi) sementara Galileo menganut konsep heliosentris, yaitu bumi bergerak mengelilingi matahari.

Sikap dari bapak-bapak gereja yang menginginkan umatnya bodoh semata-mata demi kepentingan pribadi dan kepentingan penguasa. Dengan kebodohan umat tersebut, maka tidak akan ada perlawanan atas kezaliman yang mereka lakukan. Dogmatik gereja tersebut berkembang hingga abad pertengahan. Hingga saat itu pula, Barat mengalami masa kegelapan yang pada gilirannya berakhir dengan perlawanan para ilmuan yang mempertahankan pendirian ilmiahnya dan berkoalisi dengan raja untuk menumbangkan kekuasaan gereja. Koalisi ini berhasil dan tumbanglah kekuasaan gereja sehingga muncul renaissance yang pada gilirannya melahirkan sekularisasi dan lahirlah dikotomi antara ilmu dan gereja (agama).
Dampak dari sejarah kelam tentang agama versus ilmu pengetahuan yang terjadi di Barat tersebut hingga saat ini masih terlihat. Meskipun agama kristen mayoritas, akan tetapi epistemologi keilmuan yang berkembang di Barat tidak dilandasi oleh ajaran agama sehingga ilmu pengetahuan yang mereka hasilkan bisa mengabaikan—bahkan menolak—peran dan kedudukan suatu agama.

Berbeda dengan sejarah umat Islam, meskipun terdapat lembaran sejarah yang kelam—seperti sejarah kekuasaan umat Islam yang sulit untuk berjamaah, termasuk ketertinggalan umat Islam dewasa ini dalam perkembangan iptek, dll.—namun dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan justru berkembang dari motivasi agama. Artinya, puncak ilmu pengetahuan pada abad pertengahan di dunia Timur sesungguhnya dipicu oleh semangat ajaran agama sangat respon terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dilihat dari wahyu pertama yang diturunkan justru bermula dengan kata iqra', bacalah! Bukankah membaca sebagai aktivitas pokok dalam pengembangan ilmu pengetahuan?

Demikian pula pandangan tentang hubungan agama dan spiritual, Islam tentu memiliki pandangan yang berbeda dari Danah Zohar dan Ian Marshall di atas. Islam merupakan agama yang memiliki ajaran universal dan bersifat totalitas; mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, baik sosial-budaya, politik, ekonomi, material/fisikal, dan termasuk aspek spiritual. Karena totalitas dan universalitas Islam itu pulalah Allah menyeru agar manusia yang berakal masuk ke dalam Islam secara kaffah (Qs. al-Baqarah/2: 208) atau utuh, tidak setengah-setengah.

Hubungan antara spiritual dengan agama juga tampak dalam pernyataan Allahbakhsh K. Brohi yang berpendapat bahwa siapa saja yang memandang Tuhan atau Ruh Suci sebagai norma yang penting dan menentukan atau prinsip hidupnya bisa disebut "spiritual". Seyyed Hossein Nasr juga menegaskan bahwa tujuan spiritualitas itu sendiri adalah memperoleh sifat-sifat Ilahi dengan jalan meraih kebaikan-kebaikan yang dimiliki dalam kadar sempurna oleh Nabi dan dengan bantuan metode-metode serta anugerah yang datang darinya dan wahyu dari al-Qur'an.
Dengan demikian, dalam perspektif Islam, antara agama dan spiritual memiliki korelasi positif: semakin tinggi kualitas agama seseorang maka semakin cerdas spiritualnya; sebaliknya, semakin tinggi tingkat kecerdasan spiritual seseorang maka semakin baik pula sikap keberagamaannya. Dalam istilah John Renard, aspek spiritualitas yang sesungguhnya mengembangkan dan juga meninggikan sikap keberagamaan.

Urgensi Pendidikan yang Spiritualis
Ketika agama dan spiritual memiliki hubungan yang jelas, maka pendidikan—khususnya pendidikan agama—sejatinya berorientasi terhadap pengembangan kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual tersebut tidak hanya diperlukan oleh seseorang secara individual, akan tetapi lebih dari itu juga dibutuhkan oleh masyarakat luas, bahkan dalam konteks suatu bangsa. Ada beberapa alasan penting yang menunjukkan urgensi pendidikan agama yang bersifat spiritualis tersebut--khususnya dalam kaitannya dengan masyarakat luas—setidaknya mencakup tiga bentuk, yaitu pertama, sebagai penggerak dan kontrol peradaban; kedua, mewujudkan tujuan pendidikan nasional, dan ketiga; menjawab tantangan era globalisasi.

Sebagai Penggerak dan Kontrol Peradaban
Tidak bisa dipungkiri bahwa peradaban suatu bangsa turut dimotivasi oleh keberadaan agama. Bahkan peradaban yang dicapai oleh umat Islam di era awal dan abad pertengahan juga dimotivasi oleh agama. Hal itu dapat dilihat dari doktrin dan perintah pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW; iqra'. Ayat sekaligus perintah pertama (QS.96:1) yang diterima Nabi itu membawa implikasi yang amat besar terhadap peradaban yang dibangun dengan basis iman dan ilmu pengetahuan.

Ketika agama diamalkan oleh pemeluknya dengan sempurna, maka spiritualitas masyarakat pun akan terbangun. Dengan spiritualitas itu pula seseorang mampu memahami hakikat hidupnya lalu membentuk suatu peradaban yang dinamis. Inilah yang dimaksud dengan "penggerak" peradaban. Sementara "kontrol" peradaban merupakan peranan agama yang mencerdaskan spiritual dibutuhkan untuk menjaga stabilitas suatu peradaban agar tidak terjerumus kepada bangsa yang berfoya-foya, berorientasi duniawi semata yang pada gilirannya akan mengundang keterpurukan.

Fakta sejarah juga membuktikan bahwa para pecinta spiritual (sufi) memainkan peranan penting dalam menggerakkan peradaban suatu bangsa. Menjelang 1920, misalnya, setiap negeri Muslim—kecuali empat di antaranya, Persia, Arab Saudi, Afganistan, dan Turki—telah dikuasai dan dijajah oleh kekuatan asing yang kebanyakan adalah bangsa Kristen Eropa. Dalam sebuah proses yang telah bermula sejak seabad sebelumnya, rezim-rezim kolonial memperluas wilayah kekuasaannya atas negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Di sejumlah daerah, tarekat-tarekat Sufi merupakan institusi-institusi lokal terkuat yang masih tetap bertahan ketika para penguasa setempat dijatuhkan oleh kekuatan bangsa Eropa. Oleh sebab itulah tarekat-tarekat Sufi mampu menjadi pusat-pusat perlawanan antikolonial di beberapa tempat, seperti di Aljazair, Kaukasus, dan Sudan. Kondisi ini juga dapat dilihat di Indonesia dimana para santri bergerak melawan kolonial Belanda. Kaum santri yang dipimpin oleh Kiyai ini merupakan kelompok yang kaya akan spiritual sehingga eksistensi mereka memberikan kontribusia yang amat besar terhadap kemerdekaan Republik Indonesia.

Dengan demikian, suatu bangsa yang berperadaban tinggi memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi pula, sementara spiritual yang tinggi sangat identik dengan agama. Oleh karena itu, pendidikan agama yang mencerdaskan spiritualitas bangsa amat dibutuhkan.

Mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional
Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal 4, disebutkan bahwa pada tujuan pendidikan adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kata-kata iman dan takwa jelas mengandung muatan spiritualitas yang amat mendalam. Kata-kata itu sendiri tentu terinspirasi dari isi al-Qur'an yang juga sarat akan nilai-nilai spiritual. Bahkan mendahulukan tujuan iman dan takwa dari yang lainnya, termasuk ilmu pengetahuan, mengisyaratkan bahwa pendidikan nasional memberikan penekanan yang lebih terhadap pendidikan yang mencerdaskan spiritual peserta didiknya.

Dalam perspektif Islam, mewujudkan peserta didik yang beriman dan bertakwa serta berkakhlak mulia sebagai watak bangsa mustahil dapat dilakukan tanpa adanya perhatian terhadap dimensi spiritual peserta didik. Perhatian itu tentu melalui pendidikan agama. Namun persoalannya, pendidikan agama, termasuk PAI, belum mampu mewujudkan tujuan yang diinginkan. Ketidakmampuan ini turut disebabkan oleh orientasi pendidikan agama yang selama ini lebih mementingkan aspek kognisi (kecerdasan intelektual). Akibatnya, peserta didik tidak mampu menjadi manusia yang tawakal, tawadhu', serta shaleh secara individual dan sosial, sehingga seringkali muncul ketidakpercayaan terhadap pendidikan agama dalam membentuk etika dan moral bangsa.

Oleh karena itu, pendidikan agama yang berorientasi spiritual amat dibutuhkan dalam konteks keindonesiaan yang pada dasarnya bercorak religius. Tanpa orientasi seperti itu, maka bangsa ini akan kehilangan jati dirinya, termasuk corak religiusnya, dan diambil alih oleh pola hidup materialis, hedonis, dan pragmatis.

Menjawab Tantangan Era Globalisasi
"Globalisasi" merupakan kata yang digunakan untuk mengacu kepada bersatunya berbagai negara dalam globe menjadi satu entitas. Proses globalisasi yang semakin menemukan momentumnya sejak dua dasawarsa menjelang millennium baru telah mempengaruhi berbagai dimensi kehidupan suatu bangsa: literatur akademik, idiologi ekonomi dan politik, sosial-budaya, hingga pada dimensi pendidikan. Singkatnya, proses globalisasi tidak lagi mengenal tanpa batas (borderless) dengan kemajuan sistem teknologi dan informasi.

Dalam konteks pendidikan, berbagai kecenderungan perkembangan baru pendidikan yang muncul sebagai konsekuensi globalisasi pada akhirnya diadopsi oleh sistem pendidikan nasional. Pada adab 21 ini, pendidikan dituntut untuk menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif, siap pakai, mampu menerima dan menyesuaikan perubahan yang kian cepat di lingkungannya. Padahal arus globalisasi yang begitu deras, di samping dampak positif yang ditimbulkan, juga membawa dampak negatif terhadap cita-cita bangsa.

Meskipun era globalisasi mampu membuka sekat-sekat antara satu negara dengan negara lain, namun disadari atau tidak, era globalisasi juga memunculkan hegomoni bangsa yang relatif kuat dengan bangsa yang sedang berkembang, apalagi yang terbelakang. Akibatnya, idiologi, falsafah, budaya dan cara pandang mereka akan berpengaruh pula terhadap watak bangsa Indonesia.
Dalam konteks kekinian, Barat memegang peran yang signifikan dalam percaturan global di berbagai aspek, termasuk pendidikan. Barat pun dianggap negara maju karena lebih mampu mengembangkan ilmu pengetahuan secara dinamis dan varian sehingga negara-negara berkembang dan yang sedang merangkak maju kerap kali menjadikannya sebagai referensi (barat-centris) dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini pernah disinggung oleh Ismail Raji al-Faruqi yang menyatakan bahwa materi dan metodologi yang kini diajarkan di dunia Islam adalah jiplakan dari materi dan metodologi Barat, namun tak mengandung wawasan yang selama ini menghidupkannya di negeri Barat. Padahal, umat Islam tidak mesti meniru secara mutlak metodologi Barat.

Ketika Barat dianggap lebih maju dan dijadikan sebagai referensi dalam pembangunan dan pengembangan suatu bangsa, termasuk Indonesia, maka bangsa ini akan rentan terpengaruh oleh idiologi liberal yang mereka anut serta menjadi korban "imperialisme kultural". Seperti yang disinggung sebelumnya, bangsa Barat memiliki sejarah kelam terhadap pihak gereja vs ilmuan selama berabad-abad sehingga memicu berkembangnya idiologi liberalisme. Bahkan, idiologi ini pada gilirannya turut berpengaruh terhadap epistemology keilmuan yang mereka kembangkan. Mujamil Qomar menyatakan bahwa epistemology yang dikembangkan Barat lebih menekankan pada pendekatan skeptis, rasional-empiris, dikotomik, positif-objektif, dan pendekatan yang menentang dimensi spiritual. Semua pendekatan ini menunjukkan bangsa Barat mengabaikan dimensi spiritual, terutama yang bersifat keilahiahan. Mereka juga mengeluarkan agama secara total dari epistemology tersebut dengan dalih dapat menghambat objektifitas dan merusak validitas ilmu pengetahuan.

Umat Islam memang tidak antipati terhadap perkembangan dan kemajuan bangsa Barat. Bahkan fakta sejarah menunjukkan bahwa umat Islam juga belajar kepada Barat dengan menerjemahkan karya-karya ilmuan Yunani. Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat toleran terhadap pihak asing dan dibolehkan belajar kepada mereka selagi yang dipelajari itu bermanfaat. Demikian pula yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW pada masanya senantiasa memotivasi umatnya untuk belajar, termasuk kepada non-Muslim. Para tawanan Badr, misalnya, yang pandai baca tulis itu justru dapat menebus dirinya jika ia bersedia mengajarkan baca-tulis kepada 10 orang anak-anak Madinah.

Peristiwa ini mengisyaratkan bahwa umat Islam diperkenankan belajar dari manapun asalnya, termasuk dari Barat. Hanya saja, bangsa Indonesia harus memiliki karakter yang kuat sehingga tidak mudah luntur dengan sesuatu yang baru yang datangnya dari luar. Pola hidup materialis, pragmatis, hedonis, dan liberalis yang bertentangan dengan akaran Islam mesti diwaspadai oleh bangsa ini.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, pendidikan yang spiritualis perlu ditampilkan dengan cara menerapkan pendidikan agama yang berorientasi spiritual. Jika pendidikan agama yang berorientasi spiritualitas ini dapat dilakukan, maka ilmu pengetahuan yang dikembangkan di Barat tidak akan menimbulkan mudharat, justru sebaliknya, ilmu pengetahuan seperti itu akan mampu menghasilkan peradaban yang tinggi, bahkan lebih tinggi dari peradaban yang telah mereka dicapai.

Gagasan pendidikan agama yang spiritualis sesungguhnya relevan dengan kondisi bangsa Indonesia itu sendiri yang mayoritas menganut agama Islam dan didukung oleh kebijakan-kebijakan politik pendidikan yang religius. Untuk itu, agar umat Islam Indonesia yang dikenal sebagai "The Biggest Moslem Community in The Word" mampu tampil terdepan dengan kebudayaan dan peradaban yang tinggi, perlu menerapkan strategi pendidikan agama yang mencerdaskan spiritual bangsa.

Strategi PAI dalam Mengoptimalkan Kecerdasan Spiritual
Untuk mewujudkan pendidikan agama yang mampu mengoptimalkan kecerdasan spiritual, perlu dilakukan beberapa strategi. Dalam hal ini, strategi itu akan dilihat dari sudut pendekatan atau metodologi keilmuan yang digunakan. Ada lima pendekatan yang mendapat penekanan lebih dalam konteks pendidikan agama yang mengoptimalkan kecerdasan spiritual, yaitu: 1) pendekatan intrinsic, 2) pendekatan teoantroposentris dan humanistic religius, 3) pendekatan integralistik tematik, 4) pendekatan keteladanan, dan 5) pendekatan amanū wa 'amilushshālihāt.

Pendekatan intrinsik
Pendekatan intrinsik adalah pendekatan yang berupaya untuk membangkitkan kesadaran beragama dalam dirinya sendiri, bukan semata-mata dorongan dari luar. Ada dua cara macam beragama: yang ekstrinsik dan yang intrinsik. Cara ekstrinsik memang agama sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan, dan bukan untuk kehidupan, something to use but not to live. Orang berpaling kepada Tuhan, tetapi tidak berpaling dari dirinya sendiri. Agama digunakan untuk menunjang motif-motif lain; kebutuhan akan status, rasa aman atau harga diri. Orang yang beragama dengan cara ini, melaksanakan bentuk-bentuk luar dari agama, ia puasa, shalat, naik haji, dan sebagainya – tetapi tidak di dalamnya. Cara beragama seperti ini memang erat kaitannya dengan penyakit mental. Cara beragama semacam ini tidak akan melahirkan masyarakat yang penuh kasih sayang. Sebaliknya kebencian, irihati, dan fitnah masih akan tetap berlangsung.

Agaknya, beragama dengan cara ekstrinsik inilah yang identik dengan pendapat Danah Zohar dan Ian Marshall tentang orang-orang yang beragama, tetapi rendah kecerdasan spiritualnya. Hanya saja, keduanya tidak menguraikan lebih lanjut, akan tetapi mengklaim secara langsung bahwa agama tidak ada hubungannya dengan SQ.

Dengan pendekatan instrinsik, maka sikap keberagamaan setiap peserta didik diharapkan muncul dari dalam dirinya, bukan karena dari luar. Kondisi semacam ini pada gilirannya akan membentuk kepribadiannya sehingga menjadi akhlak dalam hidupnya. Jika kondisi semacam ini terbentuk, niscaya akan berpengaruh pula terhadap perkembangan masyarakat, serta bangsa dan negaranya.

Pendekatan teo-antroposentris atau humanistik religious
Corak pemikiran filosofis yang berkembang pada tiap-tiap zaman memiliki ciri tertentu yang berbeda. Ada yang berpendapat bahwa filsafat zaman kuno bersifat "kosmosentris" dan filsafat abad pertengahan bersifat "teosentris" sedangkan zaman modern bersifat "antroposentris". Namun, jika dilihat dari konsep ajaran Islam, dapat dipahami bahwa ajarannya mengandung pesan yang bersifat humanis, berorientasi pada manusia, akan tetapi dilandasi dan dibarengi oleh keimanan kepada Allah SWT.

Esensi pendekatan humanistik religious adalah mengajarkan sikap keberagamaan tidak semata-mata merujuk teks kitab suci, tetapi melalui pengalaman hidup dengan menghadirkan Tuhan dalam mengatasi persoalan kehidupan individu dan sosial. Tegasnya, pendekatan teoantroposentris menekankan akan pentingnya aspek spiritual dalam pengembangan pendidikan agama. Hanya saja, tidak berorientasi kepada aspek yang bersifat transenden belaka, tetapi konsep pendidikan itu harus "membumi", dapat menyentuh dan menjawab berbagai persoalan dan tantangan yang dihadapi oleh umat.

Pendekatan integralistik tematik
Sebagaimana yang disinggung sebelumnya, pendidikan agama yang bermuatan spiritual tidak hanya mengedepankan aspek spiritual lalu mengabaikan aspek materil. Tetapi, kedua aspek itu mesti dikombinasikan, saling melengkapi dan saling terpadu. Disinilah diperlukan pendekatan integralistik-tematik.

Pendekatan integralistik tematik merupakan sebuah pendekatan penyajian agama, baik secara lisan maupun tertulis dengan cara mengintegrasikan seluruh bidang ilmu agama ke dalam sebuah tema tertentu. Ketika mengajarkan tema tentang shalat misalnya, tidak hanya dilihat atau didekati dari segi formalistik, simbolistik dan ritualistiknya (fikih-nya) saja, melainkan juga dilihat dari segi dalil-dalil berupa ayat al-Qur’an dan al-hadis yang pada hakikatnya berkaitan dengan bidang kajian al-Qur’an dan al-Hadis. Kemudian dilihat pula dari segi hikmahnya yang berkaitan dengan ajaran tentang filsafatnya. Selanjutnya dilihat pula latar belakang terjadinya kewajiban shalat yang selanjutnya berkaitan dengan ajaran tentang sejarah. Kemudian dilihat pula dari segi spirit atau kejiwaannya yang pada hakikatnya berkaitan dengan ajaran tasawuf.

Dengan demikian, sebuah tema kajian dapat dilihat dari berbagai bidang ilmu agama.
Pendekatan integralistik tematik ini akan memberikan pemahaman kepada anak didik tentang ayat-ayat Allah baik dalam bentuk qawliyah maupun kawniyah secara integral. Kedua ayat-ayat ini sesungguhnya mampu meningkatkan keimanan seorang mukmin. Dengan pendekatan ini, akan nampak bahwa ternyata berbagai bidang ilmu agama tersebut saling berhubungan dengan erat. Pendekatan penyajian agama secara integralistik tematik ini selain akan lebih efisien dan menantang serta penuh dengan daya analisa, juga sejalan dengan prinsip pendekatan pengajaran yang modern, serta didukung oleh teori psikologi Gestalt yang melihat bahwa antara satu kemampuan dengan kemampuan lainnya yang dimiliki manusia saling berhubungan. Dengan pendekatan yang integralistik tematik ini, maka tidak akan ada lagi pertentangan (dikotomi) antara satu ilmu agama dengan ilmu agama lainnya sebagaimana yang pernah terjadi dalam sejarah dan masih cukup kuat pengaruhnya hingga sekarang.

Pendekatan keteladanan
Metode keteladanan merupakan metode yang paling berpengaruh dalam mendidik peserta didik, khususnya dalam hal pembentukan kepribadian. Pentingnya metode ini juga dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Bahkan al-Qur’an menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW itu menjadi teladan bagi para umatnya (Qs. al-Ahzab/33: 21). Keteladanan itu terlihat dari setiap perilaku yang ditampilkan oleh Rasulullah, sehingga Allah pun memujinya dalam al-Qur’an: dan sesungguhnya engkau (Muhammad) memiliki akhlak yang agung (Q.s. Qalam/68:4).

Untuk menerapkan pendidikan agama yang berorientasi kepada kecerdasan spiritual, pendekatan keteladan merupakan pendekatan yang paling efektif. Bahkan, dalam tradisi tarekat, keteladanan seorang mursyd atau guru amat dibutuhkan. Dalam hal ini, seorang guru dituntut untuk memiliki integritas kepribadian yang mulia sehingga menjadi model dan teladan bagi peserta didiknya.

Pendekatan amanū wa 'amilushshālihāt
Banyak ditemukan dalam al-Qur'an kata-kata amanū wa 'amilushshālihāt yang secara tekstual diartikan sebagai beriman dan beramal shaleh. Orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah orang yang beruntung (al-Ashr/103:3), mendapat ampunan dan pahala (al-Fath/48: 29), dijadikan sebagai penguasa atau khalifah di muka bumi (an-Nur/24: 55), memperoleh keamanan (Saba'/34: 37), memperoleh karunia-Nya (asy-Syuura/42: 26), dan sebagainya.
Amanū wa 'amilushshālihāt juga dapat diartikan sebagai sikap yang memliki konsisten, komitmen, dan loyalitas loyaliyas yang kuat serta berpikir dan bertindak secara kreatif dan produktif. Konsep Amanū wa 'amilushshālihāt ini dapat dijadikan sebagai pendekatan pendidikan agama. Amanū wa 'amilushshālihāt mengandung sarat nilai-nilai spiritual sekaligus memberi inspirasi untuk berkarya secara kreatif, inovatif, dan produktif. Modal ini sangat dibutuhkan dalam mewujudkan bangsa Indonesia yang berperadaban tinggi.

Kesimpulan

Makalah ini menolak pemikiran Danah Zohar dan Ian Marshall tentang hubungan agama dengan kecerdasan spiritual dalam bukunya "SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence". Dalam buku tersebut Zohar dan Marshalla menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara agama dengan kecerdasan spiritual (SQ). Menurut penulis, agama justru mendidik pemeluknya untuk memiliki kecerdasan spiritual dalam arti yang sesungguhnya. Antara agama dan spiritual memiliki korelasi yang positif: semakin tinggi kualitas keberagamaan seseorang maka semakin tinggi pula kualitas spiritualnya, demikian sebaliknya.

Hubungan antara agama dan spiritualitas ini juga dikemukakan oleh Sayyed Hossein Nasr dalam bukunya Islamic Spirituality Foundations. Menurutnya, hakikat spiritual justru bersifat ilahiah yang menjadi puncak tertinggi dalam ajaran Islam. Demikian juga John Renard berpendapat bahwa spiritualitas mengembangkan dan juga meninggikan kehidupan keberagamaan. Namun, dikotomi antara agama dan dimensi spiritualitas juga banyak dikemukakan oleh sarjana Barat, di antaranya J. Harold Ellens, Vernon A. Holtz dan Stephen R. Honeygosky. Bahkan John Naisbitt dan Patricia Aburdence dalam Megatrend 2000 menyebutkan slogan New Age dengan Spirituality, Yes! Organized Religion, No!. Perbedaan ini tampaknya dilatarbekalangi oleh pemahaman mereka sendiri yang tidak utuh terhadap agama sehingga agama hanya dianggap sebagai organisasi formal yang tidak menjamin terpenuhinya kepuasan spiritual.

BIBLIOGRAFI
Alexander, Hanan A., Spirituality and Ethics in Education; Philosophical, Theological and Radical Perspective, Oxford: Blackwell Publishing, 2004
Arif, Muhammad, "The Islamization of Knowladge and Some Methodoogical Issues in Paradigm Building: The General Case of Social Science with a Special Focus on Economic", dalam Mohammad Muqim (ed.), Research Methodology in Islamic Perspektive, New Delhi: Institute and Objective Studies, 1994
Arkoun, Mohammed, Rethinking Islam, Penj. Yudian W. Asmin dan Lathiful Khuluq, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996
ar-Rifa’i, Muhammad Nasib, Kemudahan dari Allah; Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid I, Penj. Syihabuddin, Jakarta: Gema Insani Press, 1999
As-Siba'i, Musthafa Husni, Min Rawâ'i Hadarâtina, Penj. Abdullah Zakiy al-Kaaf, Bandung: Pustaka Setia, 2002
Aziz, Abdul, "Posisi Pendidikan Agama dalam Sisdiknas", dalam Ali Muhdi Amnur (ed.), Konfigurasi Politik Pendidikan Nasional, Yogyakarta: Pustaka Fahima, 2007
Aziz, Fayaz, Man Syahkumul 'Alam, alih bahasa Ahmad Syakur, judul Dicari! Pemimpin Peradaban Dunia; Menakar Visi Universal Paham dan Agama-agama Besar Dunia, , Solo: Era Intermadia, 2006
Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos, 1999
Bagir, Haidar, Gagalnya Pendidikan Agama, dalam Kompas, tanggal 28 Februri 2003.
___________, "Memaknai Tasawuf sebagai Spiritual Islam", dalam Madjid, Nurchalish, et.al., Kehampaan Spiritual Masyarakat Modern; Respon dan Transformasi Nilai-nilai Islam Menuju Masyarakat Madani, Jakarta: Paramadina, 2000
Burhanudin, Jajat dan Dina Afrianty (Peny.), Mencetak Muslim Modern; Peta Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: PTRajaGrafindo Persada, 2006
Dahlan, Abdul Aziz, Agama dan Falsafat, dalam Jurnal Al-Ta'lim, edisi IX September-Desember 2000, Padang: IAIN IB Press, 2000
Adz-Dzakiey, Hamdani Bakran, Prophetic Intelligence, Kecerdasan Kenabian; Menumbuhkan Potensi Hakiki Insani Melalui Pengembangan Kesehatan Ruhani, Yogyakarta: Islamika, 2005
Ellens, J. Harold, Understanding Religious Experiences: What The Bible Says About Spirituality, Greenwood Publishing Group, 2008
Ernst, Carl W., The Shambhala Guide to Sufism, Shanbahala Publications., Massachusetts, 1997, diterjemahkan oleh Arif Anwar dengan judul "Ajaran dan Aliran Tasawuf; sebuah Pengantar", Jogjakarta: Pustaka Sufi, 2003
al-Faruqi, Ismail Raji, Islamization of Knowladge: Problem, Principle and Perspectives, Heradon, U.S. IIIT, 1987, alih bahasa Anas Wahyudin, judul: Islamisasi Pengetahuan, Bandung: Pustaka, 1984
Faridi, Shah Shahidullah, "The Spiritual Psychology of Islam", dalam Wahid Bakhsh Rabbani, Islamic Sufism, Kuala Lumpur: A.S. Noordeen, 1990, third edition
Feisal, Jusuf Amir, Reorientasi Pendidikan Islam, Jakarta: Gema Insani Press, 1995
Goleman, Daniel, Emotional Intelligences, New York: HarperCollins (Basic Books), 1993, alih bahasa T. Hermaya, judul: Emotional Intelligence, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999
Hamersma, Harry, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: PT Gramedia, 1992
Hamka, Tafsir al-Azhar, juz II dan XXX, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1988
Hasan, Abdul Wahid, SQ Nabi; Aplikasi Strategi dan Model Kecerdasan Spiritual (SQ) Rasulullah Masa Kini, (Jogjakarta: IRCiSoD, 2006
Heelas, Paul, Linda Woodhead, Benjamin Seel, The Spiritual Revolution; Why Religion is Giving Way to Spirituality, Wiley-Blackwell, 2005
Hicks, Douglas A., Religion And The Workplace: Pluralism, Spirituality, Leadership, Cambridge University Press, 2003
Honeygosky, Stephen R. (ed.), Religion and Spirituality: Bridging the Gap, Twenty-Third Publications, 2006
al-Jazairi, Abu Bakar Jabir, Tafsir al-Aisar, Penj. M. Azhari Hatim dan Abdurrahim Mukti, Jakarta: Sarus Sunnah, 2006
Karni, Asrori S., Civil Society dan Ummah; Sintesa Diskursif "Rumah" Demokrasi, Jakarta: Logos, 1999
Kartanegara, Mulyadhi, Integrasi Ilmu; Sebuah Rekonstruksi Holistik, Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005
Khaldun, Abdurrahman Ibn, al-Ibar wa Dīwān al-Mubtada’ wa al-Khabar fī Ayyām al-Arb wa al-‘Ajam wa al-Barbar wa Man ‘Āsharahum min Dzawī al-Sulthān al-Akbar, jilid I — VII, Beirut: al-Dar al-Kutb al-’Ilmiyyah, 1992
Kosim, Muhammad, al-Qur'an, Karakter Pendidikan Sumbar, opini, harian Padangekspres, tanggal 6 Juni 2009
__________, Mempertegas Peran PAI di Sekolah, opini, harian padangekspres,, 2009
__________, Transformasi dan Kontribusi Intelektual Islam atas Dunia Barat, Makalah PPs. Program Magister IAIN Imam Bonjol Padang, 2006
Langgulung, Hasan, Peralihan Paradigma dalam Pendidikan Islam dan Sains Sosial, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002
Leksono, Karlina -Supelli, Awal Sebuah Pemahaman, http://mkb.kerjabudaya.org
Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-nusansa Psikologi Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001
Murad, Yusuf, Mahadi' 'ilm al-Nafs al-'Am, (Mesir: Dar al-Ma'arif, tt.
Muthahhari, Murtadha dan S.M.H. Thabathaba'i, Light Within Me, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh tim penerjemah pustaka hidayah dengan judul: Menapak Jalan Spiritual, Bandung: Pustaka Hidayah, 1997, cet. ke-2
Nadwi, Abul Hasan Ali, Islam and The Word, Penj. Adang Affandi, Bandung: Angkasa, 1987
Nasr, Seyyed Hossein (ed.), Islamic Spirituality Foundations, Penj. Rahmani Astuti, judul: Ensiklopedi Tematis Spiritual Islam; Fondasi, Bandung: Mizan, 2002
____________, The Encounter Man and Nature, University of California Press 1984, Penj. Ali Noer Zaman, judul: Antara Tuhan, Manusia dan Alam, Yogyakarta: IRCiSoD, 2003
Nata, Abuddin, Orientasi Pengembangan Pendidikan Agama Islam pada Buku Teks SD/SMP/SMU, Semarang: Makalah, 18 Desember 2008
Moody, Harry D., Religion, Spirituality, and Aging; A Social Work Perspective Routledge, 2005
Pasiak, Taufik, Revolusi IQ/EQ/SQ, Antara Neurosains dan al-Qur'an, Bandung: Mizan, 2002
Qomar, Mujamil, Epistemologi Pendidikan Islam, dari Metode Rasional hingga Metode Kritik, Jakarta: Erlangga, 2005
Rahman, Fazlur, Islam, University of Chicago, 1979, Penj. Ahsin Mohamad, Bandung: Pustaka, 2000, cet. ke-IV
Rahmat, Jalaluddin, Islam Alternatif, Bandung: Mizan, 1991, cet. IV
Ramadan, Tariq, Menjadi Modern Bersama Islam; Islam, Barat, dan Tantangan Modernitas, Jakarta: Teraju, 2003
Renard, John, Seven doors to Islam: spirituality and the religious life of Muslims, University of California Press, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh M. Khoirul Anam dengan judul "Dimensi-dimensi Islam", Jakarta; Inisiasi Press, 2004
Shihab, Quraish, Wawasan al-Qur’an, Tafsir Maudhu’i atau Pelbagai Persoalan Umat, Bandung: Mizan, 1998
Shimogaki, Kazuo, Between Modernity and Postmodernity The Islamic Left and Dr Hassan Hanafi's Though: A Critical Reading, terbit tahun 1988 dan alih bahasa oleh M. Imam Aziz dan M. Jadul Maula dengan judul Kiri Islam; Antara Modernisme dan Posmodernisme, Telaah Kritis Pemikiran Hassan Hanafi, Yogyakarta: LKiS, 2004, cet. ke-7,
Syar'ati, Ali, A Glance Tomorrow's History, Penj. Laleh Bachtiar dan Husayn Saleh, Bandung: Pustaka Hidayah, 1996, cet. ke-2
Taher, Tarmizi, "Islam dan Isu Globalisasi Perspektif Budaya dan Agama", dalam M. Nasir Tamara dan Elza Peldi Taher (ed.), Agama dan Dialog Antar Peradaban, Jakarta: Paramadina, 1996
Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah (Transcendental Intelligence); Membentuk Kepribadian yang Bertanggung Jawab, Profesional, dan Berakhlak, Jakarta: Gema Insani Press, 2001
Wright, Andrew, Spirituality and Education, (New York: Routledge, Falmer, 2000
Yunus, Mahmud, Sedjarah Pendidikan Islam, Jakarta: Mutiara, 1966
_______, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Hidakarya Agung, 1993
Zar, Sirajuddin, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004
Zohar, Danah dan Ian Marshall, SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence, Bloomsbury, Great Britain tahun 2000

Senin, 29 Agustus 2011

Sejarah Hari Raya Aidilfitri


SEJARAH hari raya dalam Islam bermula apabila Rasulullah berhijrah ke Madinah. Baginda
mendapati ada dua hari raya yang disambut oleh bangsa Arab pada masa itu. Apabila Rasulullah
bertanya kepada mereka apakah dua hari raya itu, mereka segera menjawab bahawa dua hari raya
yang mereka sambut itu adalah perayaan yang diwarisi secara turun temurun daripada datuk
nenek mereka.
Lalu Rasulullah menyatakan kepada orang Arab Madinah bahawa Islam menggantikan dua hari
raya yang kamu raikan itu dengan dua hari yang lebih bermakna iaitu Hari Raya korban atau
Aidiladha dan Hari Raya Fitrah atau Aidilfitri.
Konsep hari raya dalam Islam jelas menunjukkan bahawa ia adalah perayaan keagamaan. Ini
bermakna jika ia disambut di atas landasan agama, maka hari raya yang diraikan itu adalah satu
ibadat.
Aidilfitri disambut sebagai suatu kemenangan bagi orang yang dapat mengerjakan ibadat puasa
Ramadan dengan sempurna.
Kemenangan itu bukan saja menang kerana berjaya mengawal nafsu makan dan minum selama
sebulan pada siang hari sepanjang Ramadan, malah kejayaan menghalang diri daripada
melakukan perkara dilarang, di mana jika dilakukan akan terbatal puasanya. Kerana itu Allah
menganugerahkan satu hari untuk kita sama-sama meraikan kejayaan daripada kemenangan itu
Kalimat ‘fitri’ sendiri bermaksud fitrah iaitu dengan kejayaan manusia balik kepada fitrah yang
asal. Fitrah asal ini sebenarnya suatu permulaan kejadian manusia yang sememangnya bersih
daripada dosa dan noda.
Oleh kerana ia dikatakan sebagai perayaan keagamaan, maka cara menyambut hari raya itu
sendiri perlulah mengikut adab dan peraturan tertentu. Apabila saja diumumkan hari raya, maka
mulakanlah malamnya dengan aktiviti ibadat. Ini seperti memperbanyakkan solat sunat,
bertasbih, bertakbir dan bertahmid sebagai tanda kesyukuran.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Tabrani dari Ubadah bin Soib menyatakan bahawa:
Sesiapa yang menghidupkan malam Aidilfitri dan Aidiladha dengan amalan yang baik dan
ikhlas kerana Allah, maka tidak akan mati hatinya pada hari semua hati-hati akan mati, iaitu
hari kiamat.
Pada pagi hari raya dimulakan dengan membersih diri, bersiap-siap untuk ke masjid menunaikan
solat sunat Aidilfitri dan seterusnya menghidupkan ukhwah dengan kunjung mengunjung di
kalangan saudara mara dan sahabat handai.
Perlu diingat Islam tidak pernah mengajar umatnya agar untuk berlebih-lebih atau melampau batas dalam menyambut apa saja perayaan. Ini bermakna Islam menegah umatnya melakukan pembaziran dalam menyambut hari raya seperti boros berbelanja semata-mata untuk bergaya dengan pakaian mahal dan kuih muih terlalu banyak.
Pada zaman Rasulullah, datang seorang sahabat kepada baginda dengan berpakaian serba baru, kata sahabat ini: "Ya Rasulullah, pada tahun ini saya tidak dapat dapat menyambut Aidilfitri. Lalu baginda segera bertanya: “Kenapa wahai saudaraku?” Lelaki itu berkata: "Kerana saya
tidak ada baju baru."
Rasulullah kemudian bertanya kepada beberapa sahabat lain, agar sesiapa yang mempunyai baju
baru dapat diberikan kepada lelaki tadi. Ini bermakna Islam tidak melarang sesiapa saja untuk
bergaya dengan baju baru. Tetapi pengajaran daripada kisah tadi ialah dalam menyambut hari
raya tidak semua bernasib baik dengan mempunyai pakaian baru. Lalu, digalak sesiapa yang
ingin membuat kebajikan dengan bersedekah apa saja kepada orang yang tidak berupaya.
Konsep hari raya selalunya dikaitkan dengan pembaziran. Membelanjakan wang ringgit untuk
membeli secara berlebihan atau membeli sesuatu yang boleh membawa kemudaratan seperti
mercun dan bunga api amat salah di sisi agama. Mungkin pembaziran ini berlaku kerana
masyarakat kita hidup dalam kemewahan.
Sepatutnya rezeki yang lebih itu disumbangkan kepada saudara seagama lain yang mungkin
tidak dapat merayakan hari raya seperti kita.
Satu lagi budaya yang lazim berlaku dalam sambutan hari raya ialah pemberian duit raya. Islam tidak melarang pemberian ini, asalkan tidak melampaui konsep pemberiannya itu. Usahlah kita mendidik anak-anak supaya berkunjung ke rumah jiran semata-mata dengan harapan anak akan diberi duit raya ini. Jika sebaliknya, maka pelbagai anggapan dan prasangka buruk diberikan kepada sesiapa yang tidak melazimkan pemberian itu. Misalnya, dikatakan kedekut, tangkai jering dan bakhil.
Menyentuh soal wang ini, satu kewajipan yang perlu ditunaikan oleh semua umat Islam
menjelang Aidilfitri ialah zakat fitrah. Wang zakat ini adalah sumbangan yang akan diberikan
kepada golongan yang tidak berupaya, miskin, fakir dan sebagainya mengikut lapan asnaf yang
ditetapkan syariat.
 Jika Aidilfitri disambut dengan kegembiraan yang melampau tanpa melihat beberapa pengisian
yang disebutkan tadi, pasti tujuan asalnya jauh menyimpang. Kedatangan Syawal sepatutnya
menginsafkan Muslimin di sebalik makna kemenangan dan kejayaan dalam sambutan Aidilfitri,
kita tidak sepatutnya melupakan tuntutan agama. 

AKHIRKATA PENULIS.......!
"beli anggur ke Kediri, dasar nakal di curi Upin Ipin. beli kelapa ke Jakarta dasar apes dimakan onta. Selamat idul fitri, minal aidin wal faidzin. maafin segala salah dan khilaf yaa?"" 
 

Rabu, 10 Agustus 2011

KAPAN KIAMAT

Kapan Kiamat..? Hanya Allah SWT Yang Maha Tahu. Kita hanya tahu lewat tanda-tanda akan datangnya hari Kiamat itu. Pada manuskrip peninggalan suku Maya yang tinggal di selatan Meksiko atau Guatemala yang dikenal menguasai ilmu Falak, disebutkan bahwa kiamat akan terjadi pada 21 Desember 2012. Disebutkan juga pada waktu itu akan muncul gelombang galaksi yang besar-besaran sehingga mengakibatkan terh...entinya semua kegiatan di muka Bumi ini.

Kiamat hanya ilmu Allah SWT

Ramalan akan adanya kiamat pada 2012 dari suku Maya sebenarnya belum diketahui dasar perhitungannya. Tetapi issu ini sudahmenyebar luas lewat media Internet. Sebagai Muslim, saya hanya yakin bahwa Kiamat ada dan PASTI akan datang. Dan waktunya, kita tidak ada yang tahu, apalagi sampai menyebut tanggal..

Tentang waktu, kapan kiamat terjadi, ummat Islam hanya diberi sign, berupa tanda2 datangnya kiamat. Bila tanda-tanda sudah ada, maka hari yang dimaksud memang sudah dekat. Tetapi tepatnya kapan, kembali ke konsep dasar, Ummat Islam tidak ada yang boleh menyebut waktu, baik hari, tanggal, bulan maupun tahun. Sebab…

Innamaa ‘ilmuhaa ‘inda Allah, (yang tahu soal kiamat itu hanya Allah)